Jami Al Yaqin Tertua dan Saksi Perjuangan Melawan Penjajah Belanda

Jami Al Yaqin Tertua dan Saksi Perjuangan Melawan Penjajah Belanda
Masjid Al yaqin, Bandarlampung ©masjidjamialyaqin

BANDARLAMPUNG (IL)--Kota Bandarlampung di Provinsi Lampung memiliki sejumlah tempat bersejarah, termasuk rumah ibadah umat islam yang sampai saat ini masih digunakan. Salah satunya Masjid Jami Al-Yaqin, masjid tertua dan bersejarah di Kota Bandarlampung usianya telah lebih dari 200 tahun.

Masjid yang berada di Jalan Raden Intan Nomor 125, keurahan Pelita, kecamatan Enggal, kota Bandarlampung yang berada di sisi salah satu ruas jalan protokol ibu Provinsi Lampung.

Masjid ini juga tak jauh dari pusat perbelanjaan dan perdaganagn, baik pasar tradisional maupun mopdern di sekitarnya (pasar bawah, pasar tengah/SMEP, pasar bambu kuning dan Ramayana maupun Plaza Simpur Center).

Mengutip dari islamic-center.co.id, menyebutkan Masjid Jami Al-Taqin dibangun oleh pendatang dari Bengkulu yang berada di Tanjungkarang, Bandarlampung pada 1808.

Awalnya masih kecal dan hanya berbentuk surau untuk keperluan pribadi, dan hanya beratapkan rumbia. Kemduian mulai diperbesar menjadi musala.

Berdasarkan profil Masjid Al-Yaqin menyebutkan merupakan masjid yang sudah ada dari tahun 18080,s ebelum Gunung Krakatau (Karkatoa) di Selat Sunda meletus dahsyat pada 26-27 Agustus 1883 hingga hanya menyisakan bekas induknya, dan kini mucul Gunung Anakat Krakatau tetap aktif sebagai gunung berapi di dalam laut itu.

Awalnya bangunan musalah berada disimpang empat pasar bawah, Tanjung Karang sekitar satu kilometer dari lokasi sekarang-kemudian dipindahkan dengan cara bertong-royong dipanggul bersama-sama oleh masyarakat.

Lokasi masjid saat ini meruapakan tanah wakaf almarhum H Muchyiddin (warga Lampung) dan H Muhammad Yaqin (warga dari Bengkulu).

Menurut informasi dari berbagai sumber, apda 1882/1883, bangunan tempat ibadah itu pernah direnovasi dengan diperbesar dari ukuaran sebalumnya, antara lain untuk menampung para pendatang dari Bengkulu dan warga sekitar makin banyak beribadah disini.

Kemudian warga setempat memindahkan musala dari samping pasar bawah, Tanjungkarang ke tempat yang sekarang pada 1912 warga kampung beramai-ramai mengotong bersama-sama musla itu ketempat ini. Pada lahan yang merupakan tanah wakaf tersebut.

Masjid Jami Al-Yaqin diperbesar menjadi masjid pada 1923. Waktu itu, dindingnya setengah bata dan papan, tanpa kubah dan menara.

Menurut penuturan warga lama disekitar masjid itu, dulu daerah dilingkungan masjdi ini merupakan kawasan perkebunan.

Berdasarkan profil Masjid Al-Yaqin ini, beberapa kali direnovasi termasuk pada tahun 1923 dengan lahan berukuran kurang lebih30x37 m dan luas kurang lebih 1.107 meter persegi, dan saat itu bangunan masih semi permanen tanpa kubah dan merana. Saat ini, masjid diberi nama masjid Enggal Perdana.

Barulah, pada tahun 1965, nama masjid diubah menjadi Masjid Al-Yaqin.

Pemberian nama masjid Al-Yaqin merupakan usul dari Konsulat Jenderal Kedulatan Besar RI di Kerajaan Arab Saudi H Umar Murot. Kemudian nama tersebut dilengkapi pada tahun 2000 menjadi Masjid Jami Al-Yaqin yang dipakai hingga saat ini.

Basis Perjuangan Kemerdekaan

Keberadaan masjid dari semula merupakan surau/mushala yang telah berusia sekitar 211 tahun ini, diakui banyak pihak sebagai pelor penggerak kegiatan umat islam dalam syiar agama.

Masjid ini juga telah menjadi sarana/wadah perjuangan umat, yaitu menjadi markas pejuang Indonesia dalam menentang penjajahan Belanda.

Salah satu tokoh yang terkenal dari Masjid Jami Al- Yaqin adalah KH Ali Taslim yang merupakan Panglima Hizbulla Tanjungkarang pada masa penjajah Belanda.

Media yang digunakan di Jami AL-Yaqin mengadakan pengajian untuk mengumpulkan umat muslim agar adapat bersatu melawan penjajah Belanda. (sumber : antara)

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu