Ada Roterdam di Trikora

Ada Roterdam di Trikora
Rumah Peninggalan Belanda di kebun Roterdam Trikora© IL

LAMPUNGSELATAN (IL)---Lorong Trikora. Nama dan tempat itu sempat viral bersama merebaknya media sosial di Lampung. Gadget berkamera menjadi pemantik utama.

Begitu banyak orang yang melintas di kebun karet milik PTPN VII Unit Kedaton Afdeling Trikora di Kecamatan Jatiagung itu tertarik menikmati, lalu berhenti sejenak. Mereka foto, selfir, wefie, mengambil video, bahkan tiktokan.

Jalan mulus, dahan dan ranting pohon karet dengan daun hijaunya memayungi lintasan hingga menyerupai lorong. Baris-baris pohon rambung sepanjang hampir dua kilo meter itu memang indah. Namun, di balik pagar yang memanjakan mata itu, ada spekta lain yang cukup eksotik. Yakni, komplek pabrik karet Trikora yang sudah ada sejak Zaman Belanda. Entah nama aslinya, tetapi orang menyebut dengan Pabrik Karet Roterdam. Kata yang sama dengan salah satu kota di Negara Belanda itu diucapkan beragam oleh warga setempat.

Bahkan, beberapa blog menyebut dengan kata berbeda. Website Desa Rejomulyo, satu desa yang terbentuk oleh komunitas pekerja kontrak di pabrik karet itu menyebut Lotherdam pada bagian awal dan sempat berganti menjadi Ratherdam. Tetapi, sebutan lisan pada banyak warga menggunakan kata Loterdam. Jejak nama Belanda yang masih terlintas di benak warga adalah Tuan Broer.

Konon, dulu nama tersebut adalah pimpinan di kebun dan pabrik karet itu. Namun, fenomena yang sampai sekarang ada jejaknya cukup jelas adalah nama Ki. Rasman dan Nyi. Jeane Lavre Rasmini.

Mereka adalah sepasang suami istri yang kemudian mendirikan Desa Rejomulyo, satu desa di pinggir kebun karet Belanda itu. Rasman asli Jawa (Gombong) sedangkan Jeane Lavre adalah keturunan Belanda. Sejarah tidak terlalu terang tentang kebun yang saat ini dikelola PTPN VII ini.

Pabrik karet dengan segala peralatan tuanya juga sudah tidak ada. Namun, beberapa bangunan bersejarah dan masih terawat cukup mengesankan nostalgia. Salah satu rumah dengan arsitektur Belanda dibangun dengan konstruksi kayu masih ada di dekat bekas pabrik.

Rumah ini konon dulu ditempati Rasman dan Jeane Lavre sebagai mandor besar atau ketua rombongan pekerja kontrak dari Jawa yang bekerja di Pabrik Lotherdam. Di bagian depan, ada beberapa unit rumah dinas sinder dan para pembesar perusahaan. Beberapa saat ini dialihfungsikan menjadi kantor, sekolah TK dan PAUD, dan sempat menjadi klinik kesehatan. Salah satunya ada di bagian tengah lokasi. Rumah dengan atap tinggi, dinding tembok tebal, jendela kaca panel persegi, dan teras balkon, dan ruang-ruang besar ini masih utuh.

Agak sedikit berbeda dengan bangunan Belanda lampung umumnya, pondasi dan pasangan batu setengah dinding yang biasanya menggunakan batu hitam bersusun acak, rumah ini menggunakan batu bata. Tak pelak, ketika direcolouring, bagian bawah rumah yang menggunakan batu bata ini digunakan warna tanah liat.

Seperti rumah tua lainnya, tata ruang rumah ini mirip. Terasnya dikurung dengan pasangan beton sekira 75 centi yang bagian atasnya biasa untuk duduk-duduk penghuni maupun tamu. Dengan tegel warna kuning gading, ruang tamu lebar yang terhubung dengan ruang tengah.

Ada sebentuk tembok menyerupai gapura yang pada saat tertentu bisa dipasang gordin sebagai pemisah. Kamar-kamar tidur yang besar, jendela krepyak yang lebar, dapur terpisah oleh lorong, dan ciri khas Belanda masih tersisa. Demikian juga dengan konstruksi beton tembok yang dibangun dengan tulangan kayu merbau besar sebagai pengikat. Pendek kata, tilas-tilas ini adalah aset sejarah yang sangat berharga. (**)

Pilih Bangga Bangga 100%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu