Dana PKBL PTPN VII, Pelampung untuk Joko Mulyono

Dana PKBL PTPN VII, Pelampung untuk Joko Mulyono
Joko Mulyono bersama isteri Jumiati © IL

TANJUNG BINTANG (IL)---Debar jantung Jumiati menguat ketika melihat Herlina Damanik, karyawan PTPN VII Unit Kedaton turun dari kendaraan di depan rumahnya di bilangan Way Galih, Tanjung Bintang, Jumat akhir Juni lalu. Seketika matanya basah hingga air bening mengalir ke pipi dengan deras. Lalu, perempuan berumur 55 tahun itu menghambur menghampiri tamunya dengan penuh haru.

“Astaghfirulloh..., Ibu Lina, mohon maaf...mohon maaf...mohon maaf....ya. Saya belum bisa....,” kata dia berulang-ulang.

Dengan senyum Herlina mendekat. Di halaman rumah sederhana itu, dua perempuan setengah baya itu berpelukan. “Nggak apapa, Bu Joko. Kami ke sini bukan untuk menagih utang. Kami cuma silaturahmi saja, ingin tahu kabar Bapak sama Ibu. Siapa tahu ada solusi bijak dari perusahaan,” kata karyawan senior di Unit Kedaton itu.

Komunikasi tanpa prolog ini seperti drama sore tanpa judul tetapi alur ceritanya begitu terang. Yakni, tersendatnya angsuran pinjaman lunak Joko Mulyono, suami Jumiati, pada Program Kepedulian dan Bina Lingkungan (PKBL) PTPN VII. Ya, sejak beberapa tahun ini, angsuran Joko atas pinjaman senilai Rp5 juta tidak kunjung lunas.

Joko tak segera ikut menyambut tamunya karena sedang mencukur rambut seorang pelanggannya di gubuk kecil yang didirikan di depan rumahnya. “Sebentar ya, Bu. Saya selesaikan dulu ini. Tanggung,” kata pria 58 tahun itu sembari terus memainkan gunting di atas kepala “pasiennya”.

Di ruang tamu sederhana, Joko dan Jumiati menyambut tamunya dengan ramah. Ia mengaku sangat terganggu pikiran siang malam dengan utang yang harus diangsur Rp168 ribu per bulan kepada PTPN VII. Sebab, usaha yang dia rintis dan sempat menjadi “jaminan” tak lagi berjalan sebagaimana harapan.

“Itu tadi orang pertama yang saya cukur hari ini. Ini sudah sore, biasanya nggak ada lagi. Kadang malah seharian nggak ada yang datang cukur,” kata lelaki asal Solo yang sudah sejak 1990-an tinggal di Way Galih.

Menceritakan jalan hidup, suami istri dengan empat anak itu seperti menjalankan serial sinetron penuh luka. Meski punya cukup banyak keterampilan, Joko yang semula adalah tukang las dan membuka bengkel pagar, teralis, dan aneka perkakas itu harus terhenti karena penyakit hernia.

“Awalnya, saya lagi masang kanopi. Pas mau ngangkat rangkaian atap yang sudah dilas, nggak ada teman. Saya paksain, eh malah sakit. Hernia saya kambuh dan nggak bisa kerja,” kata dia.

Bengkel las selesai dengan cerita tak menggembirakan. Dalam kondisi terpuruk, ia menerima tawaran kakak Jumiati untuk menempati rumahnya di Way Galih. Satu usaha yang relatif lebih ringan dibangun oleh Joko yang cukup jeli mengintip pasar. Yakni, depot air minum isi ulang.

Dengan sedikit modal dari kakaknya, keluarga yang terlihat agamis ini merangkak mengais rezeki. Saat itu, usaha air galon refill Joko itu cukup maju karena belum ada saingan. Setiap hari, laki-bini ini bahu-membahu melayani pembeli maupun yang pesan antar ke rumah-rumah maupun rumah makan.

“Saat itu rezeki dari air galon itu cukup lancar. Makanya saya mau besarkan dan dapat tambahan pinjaman dana PKBL dari PTPN VII. Pinjaman pertama untuk beli tambahan galon lancar saya kembalikan. Tetapi yang kedua ini macet total,” kata dia.

Bisnis air minum instan Joko surut bersama banyaknya tetangga dan warga sekitar mendirikan usaha yang sama. Selain persaingan, musibah yang menimpa Jumiati karena kecelakaan membuat ekonomi Joko kalang kabut.

“Istri saya kecelakaan dan dirawat di ICU lama. Kalau secara fisik sekarang sudah sehat, tetapi sebenarnya cacat. Sekarang dia nggak bisa merasakan seperti asin, manis, atau lainnya. Termasuk nggak bisa mencium aroma apapun. Jadi, kalau makan atau ada bau apapun, nggak ada rasa lagi,” kata Joko yang diamini Jumiati.

Tak hanya istrinya, Joko juga menjadi kerap sakit. Ia sempat terkena stroke sehingga tidak bisa bekerja maksimal. Beberapa penyakit penyerta juga hadir bersamaan seperti kencing manis atau diabet dan darah tinggi.

Dalam sisa-sisa tenaga, Jumiati usul kepada suaminya untuk buka lapak jualan gorengan di depan rumahnya. Sosok Jumiati yang ramah dan cekatan itu memang cepat akrab dengan orang lain. Modal itu dia ajukan untuk mengunduh rezeki Tuhan melalui gerobak gorengan.

“Saya sebenarnya ragu mau jualan gorengan itu. Sebab, sejak kecelakaan itu, saya nggak bisa lagi merasakan asin-manis atau yang lain. Hidung saya juga sudah tidak bisa merasakan bau apapun. Jadi, saya masak bikin gorengan ini yang lebih sibuk ya suami saya. Saya hanya jualan saja,” kata Jumiati.

Jualan kudapan yang Jumiati sendiri tak bisa merasakannya itu akhirnya kandas juga. Selain sepi yang berakibat rugi, Joko tampaknya kurang menikmati bisnis makanan setengah ringan ini. Tanpa upacara, gerobak gorengannya didorong ke belakang dan mangkrak tak berbekas.

Anak-anak Joko memang beranjak dewasa. Namun, harapan orang tua terhadap ekonomi keluarga tidak selaras angan. Dan Joko harus melanjutkan babak-babak selanjutnya dengan menembus celah ekonomi baru.

“Saya lalu bikin gubuk di depan rumah untuk buka pangkas rambut. Selain karena tenaga sudah lemah, kalau cukur rambut nggak laku kan nggak ada kerugian. Beda dengan gorengan kalau nggak laku, ya rugi,” kata dia.

Namun, jual jasa di daerah yang belum begitu ramai memang tidak mudah. Ditemui sore itu, ia mengaku sudah tiga hari baru sekali kiosnya didatangi orang untuk cukur.

“Saya bingung mau kerja apa. Tapi saya yakin ini ujian Alloh untuk saya dan keluarga. Dan yang kepikiran terus sama saya, utang saya sama PTP (PTPN VII) belum lunas. Saya takut mati masih da utang,” kata Joko sambil menggenggam amplop jadwal kontrol penyakitnya di salah satu rumah sakit di Bandarlampung.

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 100%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu