Selaksa Rumah Sinder Afdeling Kedaton

Selaksa Rumah Sinder Afdeling Kedaton
Rumah peninggalan Belanda di Kebun Karet Kedaton saksi sejarah Kebun Milik BUMN © IL

LAMPUNG SELATAN (IL)---Di atas punggung kuda jantan yang gagah, Tuan Ian mengendalikan laju tunggangannya itu dengan cekatan. Secara berkala, pria tinggi besar dengan kulit putih kemerahan dan rambut blonde itu melambatkan kudanya. Dengan seksama, matanya yang biru melepas pandangan kepada para pekerja yang menyadap karet di kebun bilangan Kedaton, Lampung itu.

Seirama dengan perjalanan sang sinder menginspeksi kebun dan pekerjanya itu, di belakangnya seorang prajurit mengikuti dengan berjalan kaki. Serdadu pribumi yang bekerja untuk tentara Belanda itu menyandang senjata laras panjang. Ia harus berlari ketika laju kuda tuannya melangkah cepat. Demikian juga sebaliknya.

Komunikasi dua orang yang hampir setiap hari berkeliling kebun itu tidak begitu lancar. Sang Tuan Belanda memberi perintah dengan Bahasa Indonesia yang tak fasih. Setiap kali menemui sesuatu yang kurang pas, sinder Belanda itu memerintahkan sang prajurit untuk membuang peluru; “dorrrr...”. Maka, teror yang dimuntahkan itu menjadi kendali seluruh kegiatan bisnis VOC kepada pribumi di Lampung.

Sekilas deskripsi kisah itu diceritakan Subur, seorang centeng yang pernah menjaga rumah Sinder di Afdeling Satu, PTPN VII Unit Kedaton, Lampung. Ditanya mengenai rumah yang berada di tengah kebun karet itu, lelaki berumur 63 tahun itu mengaku hanya mendapat cerita tentang rumah berarsitektur Belanda itu. Juga tentang cerita Tuan Ian, sinder yang pernah tinggal dan menjadi pengawas operasional kebun karet di kawasan itu.

"Bapak saya namanya Diran. Dia juga dulu karyawan di kebun karet di sini. Pernah juga jadi centeng di rumah ini. Jadi, cerita tentang rumah ini saya dengar dari bapak saya,” kata Subur saat ditemui beberapa waktu lalu.

Rumah itu memang terasa istimewa ketika kita melintas dari Bandarlampung menuju Way Galih, Lampung Selatan melalui jalur Jalan Endro Suratmin. Selepas lapangan golf Sukarame, jalur yang semula akan menjadi pintu utama menuju Kota Baru Lampung terdapat Patung Putri Balau. Sekira 300 meter menuju Sabah Balau, memasuki kebun karet PTPN VII Unit Kedaton, satu bangunan dengan dominasi warna putih-batu hitam bertahta di sisi kanan.

Dari pandangan pertama, kesan yang muncul dari bangunan itu adalah tilas rumah Belanda. Dengan atap genting kodok model srotong dan bubungan tinggi, kemegahan langsung terkesan. Dindingnya sudah beton yang dicat warna putih. Sedangkan kesan tuanya terlihat dari ornamen batu hitam bersusun yang menjadi umpak rumah dengan ketinggian lantai sekitar satu meter dari tanah.

Menurut Subur, rumah Sinder Afdelng ini dibangun pada 1918. Konstruksi beton penuh, tetapi kerangkanya dibentuk dari kayu merbau ukuran besar. Kusen pintu depan model kupu tarung dengan pintu cadangan di sisi kanan-kirinya. Motif cendelanya dibentuk panel dengan lubang-lubang kaca transparan.

Konstruksi keseluruhan bangunan diikat oleh sabuk-sabuk kayu merbau di semua sisi. Pada setiap pertemuan sudut dan persambungan dengan kusen, kayu-kayu persegi dengan ketebalan 15 centi menggandengkan setiap sisi dengan erat. Di setiap persambungan juga tampak pasak yang menjadi pengunci pertemuan kayu satu dengan lainnya.

Satu teras ukuran 3x5 meter menjadi ciri khas rumah tua ini. Lantai dari rumah kuno ini sudah terpasang tegel dengan lapisan bermotif bunga-bunga yang mulai pudar. Di bagian dalam, tegel semen kuning dipadu dengan garis luar berwarna merah hati.

Ada dua kamar besar yang terhubung dengan kamar mandir jumbo di bilik kiri. Kamar mandi itu bisa diakses dari dalam kamar maupun dari luar. Saat dipakai oleh penghuni dari dalam, pengguna bisa mengunci pintu dari arah luar agar tidak bisa dibuka.

Di belakang ruang tamu, terdapat ruang keluarga yang cukup luas. Ruang keluarga ini memiliki view ke belakang yang terdapat gudang, dapur, dan genset. “Dulu, di belakang itu ada gudang, dapur, dan genset. Di situ ada tempat tinggal pembantu,” cerita Subur.

Rumah ini masih cukup lestari dari sisi arsitektur. Namun, fungsinya tinggal sebagai Kantor Afdeling I PTPN VII Unit Kedaton. Jika malam tiba, Subur menyalakan lampu dan menunggu seperlunya. “Kata orang, sih banyak hantunya. Tetapi saya nggak pernah ketemu,” kata Subur yang sudah pensiun pada 2009 dan dipekerjakan untuk mengurus bangunan ini. (IL)

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu