“Sesan”, Rezeki Lena, Mitra Binaan PTPN VII, di Musim Kawin

“Sesan”, Rezeki Lena, Mitra Binaan PTPN VII, di Musim Kawin
Lena UMKM binaan PTPN VII Usaha dengan bendera GTC Furniture © ijilampung

BANDARLAMPUNG---Mobil Futura pikup hitam buatan 2009 itu meluncur deras ke arah Utara Bandarlampung, akhir Desember 2019 lalu. Di belakang setir ada Eka Marelta yang mengemudi dengan tenang. Di sampingnya, Lena Susanti, istrinya menyemangati dengan aneka cerita bisnis.

“Bang, nanti aku temuin saudara kita yang mau nikahin anaknya itu. Tenang, Bang. Pasti dia mau beli sesan sama kita,” kata perempuan enerjik ini kepada suaminya.

Tak kalah yakin, Eka seperti menjadi mentor komunikasi selama perjalanan yang hanya sekitar 45 menit itu. Sore itu, pasangan suami istri dengan tiga anak ini hendak menuju Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, kampung kelahiran Lena. Tak ada agenda penting, Lena hanya akan menghadiri acara nayuh, perundingan rencana pernikahan salah satu kerabat jauh.

“Saya nggak diundang, cuman tahu dari status facebook saudara. Katanya malam ini ada nayuh saudaranya. Nah, di acara musyawarah adat itulah saya bela-belain dateng. Sambil silaturahmi, saya nawarin ke tuan rumah kalau mau pesan sesan,” kata Wanita 41 tahun ini.

Sepotong kisah itu adalah satu dari berbagai cara pemasaran barang furniture yang menjadi konsentrasi bisnis Lena saat ini. Usaha dengan bendera GTC Furniture, Lena yang menjadi mitra binaan PTPN VII itu mengaku pelayanan penyediaan sesan untuk acara adat pernikahan pengantin Lampung sebagai ceruk yang digarap serius.

Sesan adalah barang-barang hantaran dari calon pengantin pria kepada pengantin wanita pada adat Lampung. Sesan umumnya berupa furniture dan perabotan rumah tangga lengkap. Nilainya bisa puluhan hingga ratusan juta.

“Orang Lampung itu kalau mau ngambil (menikahi) perempuan ada yang disebut sesan. Itu isinya perabotan rumah tengga lengkap. Nah, saya sebagai pengusaha furniture sering dapet pesanan sesan sepaket. Makanya, walaupun sibuk, saya selalu aktif di acara-acara adat,” kata dia mengenai cara promosi dan memasarkan produknya.

Bisnis menyediakan sesan, menurut Lena memang membutuhkan dana sangat besar. Namun, dengan pelayanan yang baik dan hubungan komunikasi kekeluargaan yang hangat, ia mampu meyakinkan para calon pengantin dan keluarganya.

“Saya orang Lampung, suami saya juga orang Lampung. Jadi, kami tahu persis karakter orang Lampung dan kami juga belajar terus supaya apa yang diinginkan untuk sesan itu terpenuhi. Intinya, kita harus baiklah sama orang. Soal harga dan pembayaran juga kita harus bisa berunding,” kata Lena.

Bisnis furniture berbahan dasar kayu jati bagi Lena memang baru berjalan enam tahun. Sebelumnya, wanita komunikatif ini berjualan sayur di rumahnya di Gang Belia, Gunungsulah, Bandarlampung. Namun, kerumitan dan ketatnya pekerjaan menjajakan makanan membuat dia ingin mengubah haluan.

“Saya dagang sayur itu ramai, tetapi capek banget. Bangun harus sebelum subuh, terus ke pasar, terus masak, terus ngelayani pembeli. Abis itu, beberes peralatan dan seterusnya. Capek banget. Makanya saya pengin ganti usaha,” kata ibu yang selalu bersemangat itu.

Dengan modal Rp5 juta yang dikumpulkan dari jualan sayur, Lena nekat banting setir. Sedikit pengetahuan tentang bisnis meubel dari temannya, ia memberanikan diri belanja bahan kursi, meja, dan meja rias kepada pemasok jati dari Jepara, Jawa Tengah.

“Saya nekat aja. Dengan uang lima juta itu, saya dapet 10 set bahan. Saya dapet tukang, namanya Putra dari Wates, Lampung Tengah. Jadi satu, langsung saya pasarin. Alhamdulillah, sampai sekarang masih jalan,” kata dia mengenang perjuangannya.

Perjalanan GTC Furniture sempat naik turun. Selain rumahnya, Lena sempat menyewa outlet untuk memajang dan memasarkan produknya di Jalan Ki Maja, Way Halim, Bandarlampung. Namun, ia kembali berhitung antara penjualan melalui toko dibandingkan dengan daring atau online.

“Outlet toko itu penting juga sih untuk meyakinkan pembeli. Didukung pemasaran lewat online dan pertemanan seperti yang saya lakukan dengan saudara-saudara di komunitas adat itu juga sangat bagus. Sebab, mereka saling mengabarkan dan ngasih informasi tentang bisnis kita,” kata perempuan yang hanya lulusan SMA ini.

Kebutuhan dana yang cukup besar, terutama menjelang Lebaran dan musim hajatan nikah di Bulan Syawal membuat Lena kerap terhambat. Tak pelak, ketika mendapat informasi tentang pinjaman lunak dari PTPN VII melalui dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) ia langsung mengajukan pinjaman.

“Alhamdulillah saya sudah dua kali dapat pinjaman dana dari PTPN VII. Sangat membantu karena hampir nggak ada bunga. Dan alhamdulillah lagi, saya bisa membayar cicilannya dengan lancar,” kata dia.

Bidikan Lena untuk membuka pasar memang jitu. Dua hari raya keagamaan, yakni Lebaran Idul Fitri dan menjelang Natal dan Tahun Baru, Lena selalu menguatkan stok barang jadi dari berbagai model. Sebab, kata dia, menjelang dua hari raya itu, biasanya masyarakat membutuhkan furniture baru maupun perbaikan. Dan satu musim panen lagi yang dibidik Lena adalah “musim kawin” bagi masyarakat Lampung.

“Ya, mungkin orang lain nggak terlalu memperhatikan momen musim nikahan adat Lampung itu, ya. Tetapi saya fokus dan saya kejar. Sebab, nilai per paketnya bisa puluhan juga. Lumayan, kalau satu musim kawin itu keluar lima paket, aja. Udah lumayan omsetnya,” kata dia.

Namun, untung belum dapat diraih pada musim sesan tahun ini. Wabah virus corona yang melanda dunia mengakibatkan semua pesanan sesan terhenti. Ia berharap covid segera berhenti dan sesan segera menghampiri bisnisnya.

“Tetapi, alhamdulillah masih ada saja yang beli. Saya promo lewat online terus menerus. Walaupun ada corona, sebulan masih ada tiga empat set keluar (laku), lah,” kata dia. (rls)

Pilih Bangga Bangga 0%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 100%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu