Pelabuhan Panjang Digitally Yours

Pelabuhan Panjang Digitally Yours
GM Pelindo II Cab. Panjang menerangkan aktivitas pelabuhan melalui monitor diruang kerjanya© IL

BANDARLAMPUNG (Ijilampung.com)--Spirit of Manila, kapal kargo petikemas sepanjang 273 meter itu bersandar di Pelabuhan Panjang, di Teluk Lampung, Kamis (21/11/19) lalu. Dari ruang menara pantau, Zuarneza (47) terus memelototi tiga layar komputer di dash board yang di susun formasi cekung.

Di atasnya, menempel di tembok, satu monitor LCD ukuran 52 inci secara dinamis menampilkan gambar real time dari delapan cctv yang terpasang di beberapa sisi. Dari layar itu, kapal berbendera Liberia itu dalam pantauan Zuarneza.

Meski disebut room control tower, posisi ruang kerja Zuarneza itu bukan pada ketinggian. Bilik tempat diolahnya data dan pengendalian pemuatan dan pembongkaran kontainer di kapal-kapal yang sedang bersandar itu berada di lantai dua Gedung Kantor PT Terminal Peti Kemas (TPK) Cabang Panjang. Ruang ini adalah salah satu unit komputasi berbasis digital yang terintegrasi di Pelabuhan Panjang.

ijilampung.com
Petugas menara pantau Zuarneza menerangkan fungsi ruangan didampingin Aris Prasetyo

“Ini namanya room control tower atau ruang menara kontrol. Dari sini semua proses bongkar muat petik kemas di Pelabuhan Panjang ini direncanakan, diolah datanya, kemudian dikendalikan. Ini adalah bagian dari sistem digitalisasi di Pelabuhan Panjang,” kata Suswantoro, Manajer PT TPK (IPC CT, Indoesian Port Corporation Container Terminal) Cabang Panjang.

Tarian jemari Zuarneza di atas tetikus bukan flashmob dadakan. Apa yang dikerjakan adalah hasil olah data yang memadukan antara jenis kapal, bobot, dan berbagai spesifikasi lain yang dilakukan bagian Ship Planner. Dengan sistem yang terintegrasi, ship planner akan membuat analisis rinci tentang bobot, urutan, ukuran, dan lainnya. Ini berkaitan dengan navigasi keseimbangan kapal ketika berlayar.

Ruang perencana pelayaran itu berada satu blok di lantai itu. Dan atas analisis dari ship planner itu, Zuarneza memandu operator crane dan peranti lain di lapangan secara digital.

“Saya tugasnya hanya mengarahkan operator di lapangan untuk memuat kontainer mana yang harus diletakkan di slot mana. Kalau yang menentukan, itu ada bagian lain, yaitu ship planner. Tugas saya cuma memastikan.

Sistem ini mudah sekali, karena kalau ada yang tidak tepat, komputer akan memberi warning. Saya tinggal memberi instruksi lewat radio,” kata Zuarneza.

ijilampung.com
Petugas Menara Pantau Ferry mengambarkan aktivitas pengapalan

Masih di ruangan itu, Ferry (37), karyawan lain terlihat jauh lebih sibuk. Hampir mirip dengan kokpit yang dihadapi Zuarneza, di hadapan Ferry juga tersedia tiga monitor komputer dan satu monitor besar.

Pergerakan monitor yang dikelola Ferry jauh lebih dinamis. Tangan lelaki setengah baya itu terlihat jauh lebih lincah karena mengarahkan pointer dari monitor satu ke monitor lainnya lebih cepat. Gambar-gambar yang dishoot oleh kamera pengintainya juga lebih tajam dan dekat.

Ferry mengatakan, ia bertugas memastikan jenis, kode, nomor seri, dan kondisi peti kemas yang akan dinaikkan atau diturunkan dari kapal. Ada enam cctv yang dipasang pada lokasi tempat inspeksi setiap kontainer yang akan dimuat.

“Sebebarnya ada 10 cctv, tetapi yang menjadi perhatian paling penting untuk tugas saya ini adalah enam sisi. Yaitu dari atas, samping kanan, kiri, depan, belakang, dan detail utuh,” kata dia.

Ada beberapa nomor kode khusus yang hanya dikenal di perpeti kemasan yang harus dicek oleh Ferry. Selain berasal dari perusahaan apa, beberapa kode menunjukkan ukuran, ketinggian, kapasitas, instruksi peringatan, dan lain-lain, juga untuk mengecek adanya kemungkinan kerusakan.

“Semua sudah diatur oleh sistem. Kalau ada kesalahan sedikit saja di lapangan, sistem akan memberi tahu. Tinggal, kami segera mengoreksi sampai benar-benar pas. Kalau belum pas, sistem tidak akan bisa dijalankan. Jadi, sangat akurat. Sebab, jika ada satu kesalahan saja, imbasnya akan luas,” kata dia.

Balthasar Schulte

Berlabuhnya Kapal Balthasar Schulte, perahu raksasa sepanjang tiga setengah kali lapangan sepak bola para Maret 2019 lalu menjadi hari “proklamasi” Pelabuhan Panjang sebagai international port. Keraguan kedalaman dermaga, keluasan manuver, dan kecanggihan layanan terjawab pada momen itu. Tak pelak, saat kapal dari Galangan Monrovia itu singgah, pihak pelabuha mengundang stake holder untuk meyakinkan.

ijilampung.com
Caption

“Saat itu, kami mengundang Gubernur, seluruh Bupati dan Wali Kota, dan mitra bisnis kami untuk hadir.

Bukan untuk pamer, tetapi lebih kepada mengabarkan bahwa Pelabuhan Panjang saat ini sudah menjadi lintasan kapal dunia. Ini adalah prospek cerah bagi Lampung dan sekitarnya untuk memesarkan produknya ke manca negara,” kata Drajat Sulistyo, General Manajer PT. Pelabuhan Indonesia II Cabang Panjang.

Tentang masa depan Pelabuhan Panjang, pria kelahiran Purworejo Jawa Tengah ini mengatakan, pihaknya secara terencana sudah menetapkan road map dari 2016—2020. Dari 2016, kata dia, pihaknya mendapat dukungan penuh korporasi untuk memantapkan semua fasilitas infrastruktur pelabuhan.

Lalu, pada 2017, dengan kelengkapan infrastruktur yang ada, terutama modernisasi dan digitalisasi pelayanan pelayaran, Pelabuhan Panjang menguatkan pelayanan kepada kostumer. Untuk memberi pelayanan terbaik, Pelabuhan Panjang juga terus membangun infrastruktur penunjang lainnya.

“Kami terus mendorong semua pelayanan Pelabuhan Panjang berbasis Information Technology atau IT solution,” kata GM bergaya milenial ini.

Pada 2018, Drajat menyebut Pelabuhan Panjang sudah memasuki tahab establish. Secara bertahap, dengan performa pelayanan yang baik dan cepat, Pelabuhan Panjang terus mendapat kepercayaan dari stake holder untuk mendistribusikan barang ke manca negara.

Pada 2019, apa yang direncanakan pada periode sebelumnya menampakkan hasil menggembirakan. Keberhasilan manajemen meyakinkan Kapal Balthasar Schulte singgah di Pelabuhan Panjang adalah tonggak penting pembuktian sudah menjadi pelabuhan internasional.

“Sandarnya Balthasar Schulte ke Panjang bukan sama sekali ekshibisi untuk membuktikan kita mampu. Sampai hari ini, kapal besar itu sudah weekly, setiap seminggu sekali sandar. Kapal-kapal besar lain juga sudah punya jadwal di sini. Jadi, bukan hanya percobaan,” kata Drajat.

Ia menyebut Pelabuhan Panjang pada 2020 sudah menjadi pelabuhan yang performanya sudah masuk dalam kategori kelas dunia. Segala infrastruktur, fasilitas, dan soft services, terutama digitalisasi sistem sudah berjalan maksimal. Dengan demikian, semua pelayanan di pelabuhan ini akan bebasis smart services yang menjadi ciri dari smart port.

Visi Ke Depan

Estabilitas Pelabuhan Panjang dengan berbagai keunggulannya membuka peluang untuk mengembangkan visi bisnisnya. Jika saat ini PT Pelindo II Cabang Panjang baru sebatas operator bongkar-muat dalam distribusi barang melalaui laut, ke depan akan melebar menjadi penjual jasa yang simultan.

Di temui di Kantornya, GM Pelabuhan Drajat Sulistyo mengatakan, seiring efektivitas pelayanan, pihaknya akan menjadi perusahaan jasa yang akan memberi layanan logistik dari hilir sampai hulu.

Digitalisasi layanan Pelabuhan Panjang saat ini, telah terasa membantu kelancaran proses pengiriman barang. Seorang pengusaha perkebunan di Lampung, misalnya, saat ini tidak perlu lagi datang ke Kantor Pelindo II Cabang Panjang untuk memesan slot untuk mengekspor barangnya ke luar negeri.

“Mereka sekarang tidak lagi datang membawa berkas setumpuk ke Pelabuhan. Cukup buka gadget, masuk atau login ke aplikasi pelabuhan, dan pilih layanan apa yang akan dibutuhkan. Semua beres dari genggaman,” kata dia.

Dengan fasilitas ini, Drajat mengatakan Pelabuhan Panjang masih menyisakan potensi besar yang belum termanfaatkan. Terjadi idle capacity dari fasilitas pelabuhan yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh pengusaha lokal untuk memasarkan produknya ke luar daerah atau luar negeri.

Oleh karena itu, ke depan pihaknya akan bekerja sama dengan para pihak untuk memenuhi idel capacity itu. Pihaknya akan menjadi perusahaan jasa yang akan mengendors semua kebutuhan pengusaha di daerah. Dari angkutannya, penyimpanannya, sampai pengirimannya ke luar negeri.

“Ini adalah kesempatan besar bagi pengusaha daerah, seperti di Lampung, Sumatera Selatan, termasuk Jambi yang sudah terhubung dengan jaringan jalan tol. Saya sudah kordinasi dengan Pak Gubernur dan para bupati, untuk memanfaatkan ini. Jadi, jangan lagi berpikir hanya menjual produk di lokal, padahal pasar internasional lebih menarik,” kata dia.

Tentang konektivitas dengan jalan tol, Drajat mengatakan rencana itu sudah masuk dalam agenda pembangunan ke depan. Sebab, kata dia, misi pembangunan jalan tol itu bukan sekadar memperlancar mobilitas orang, tetapi lebih kepada distribusi barang. Dan untuk misi itu, pelabuhan adalah simpul terkuat untuk bisa mengantarkan barang dengan cost yang paling kompetitif.

“Kami sudah usulkan konektivitas Jalan Tol Trans Sumatera ke Pelabuhan Panjang. Mudah-mudahan bisa segera terwujud. Kami juga sudah sinergi dengan PTPN VII yang punya lahan di pinggir tol, untuk dikelola bersama menjadi terminal komoditas terpadu. Nantinya, barang yang akan diekspor atau diimpor, pengusaha tidak perlu membangun gudang. Kami sudah sediakan,” kata dia. (SUDARMONO)

Pilih Bangga Bangga 100%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu