Rini, Duta Kopi Indonesia 2019 : “Ngopi Itu Bebas Kasta..!”

Rini, Duta Kopi Indonesia 2019 : “Ngopi Itu Bebas Kasta..!”
Tri Sartika Rini Duta Kopi Indonesia 2019, menujukan piala dan piagam pada ajang Smesco Rembug Kopi Nasional 2019 © Ist

BANDAR LAMPUNG (Ijilampung)---Di teras lobi hotel dengan view laut di bilangan Telukbetung, Bandar Lampung, secangkir kopi menemani diskusi hangat dengan Tri Sartika Rini (20).

Gadis semampai mahasiswa Seni Tari Unila FKIP ini baru saja mendapat anugerah sebagai Duta Kopi Indonesia di ajang Smesco Rembug Kopi Nasional 2019 yang diselenggarakan Kementerian Koperasi dan UKM di Jakarta. Tak berlebihan, hampir setiap simpul kalimatnya adalah tentang keunggulan, bahkan filosofi kopi.

Dengan tinggi 169 CM, Rini, sapaan akrabnya, ditambah lagi dengan sepatu high hill yang dikenakan membuat penampilannya terlihat menjulang. Wajahnya yang menawan dan senyum yang selalu menyungging, ditambah komunikasi oralnya yang lancar dan simpatik menjadi penyejuk suasana hati setiap lawan bicaranya.

“Menurut saya, kopi adalah satu jenis minuman yang punya andil besar sebagai perekat kehidupan sosial manusia, terutama di Indonesia. Ini adalah sajian bebas kasta. Siapa saja bisa minum kopi yang relatif sama. Kalaupun ada beda pada harganya, itu soal di luar aspek minumannya. Kopi di sini (hotel) bisa seharga Rp50 ribu secangkir. Tetapi, kita juga bisa menikmati kopi yang sama seharga Rp5 ribu di warung biasa,” kata dia.

Apakah harga kopi yang selaksa langit dan bumi itu berbeda rasa? Pertanyaan itu dijawab gadis kelahiran Pekon Penengahan Laay, Pesisir Barat, 4 Agustus 1999 itu dengan diplomatis. Ia mengatakan, rasa dasar kopi, apapun jenis dan asalanya relatif sama. Yang membedakan, kata dia, ada pada perlakuan dari awal sampai akhir menjadi seduan kopi yang terhidang.

“Bagi sebagian besar orang, rasa kopi yang relatif sama. Tetapi, bagi penikmat kopi yang memang menaruh minat kepada setiap rasa kopi, tentu ada perbedaan yang signifikan. Dan perbedaan itu terpengaruh oleh banyak hal, baik lokasi daerah tumbuhnya, budi dayanya, proses pengolahannya, dan yang pasti perlakuan peracikannya,” kata anak polisi ini.

Soal kopi Lampung, anak dari pasangan Heri Oktarino dan Nur Fatmawati ini begitu bangga. Ia menyebut, di daerah kelahirannya Pesisir Barat, Lampung, kopi adalah salah satu komoditas utama bagi perekonomian masyarakat.

“Ayah saya punya kebun kopi, walaupun nggak luas. Sejak kecil, saya juga sudah biasa minum kopi. Dan, sejak kecil juga saya banyak bergaul dengan orang-orang yang punya penghidupan sebagai petani kopi. Jadi, saya cukup familiar dengan dunia kopi,” kata dia.

Duta Kopi Indonesia
Tri Sartika Rini Duta Kopi Indonesia

Menjadi Duta Kopi Indonesia, menurut Rini adalah salah satu terminal pencarian dalam masa studi dan merajut pengalaman. Ia mengakui bukan hanya fokus hanya kepada kopi untuk meluaskan jaringan pengalaman.

“Saya punya minat yang cukup intensif di bidang modeling dan terus mencari indentitas diri yang bisa dikembangkan menjadi profesi masa depan. Berbagai lomba saya ikuti, termasuk di ajang pencarian Duta Kopi ini. Dan alhamdulillah, saya terpilih,” kata dia.

Menjadi Duta Kopi Indonesia, menurut Rini adalah kesempatan sangat berharga baginya. Lampung sebagai penghasil kopi dengan produksi melimpah dan kualitas rasa dan aroma khas serta disukai penikmat kopi membutuhkan promosi yang massif dan kontinue. Jika tidak, kata dia, reputasi kopi Lampung bisa berpindah dan menjadi trade mark daerah lain.

“Dunia komoditas sekarang kan begitu terbuka. Bisa jadi orang ambil kopi dari Lampung, lalu diolah di luar daerah, bahkan luar negeri, kemudian diakui sebagai produk lokal daerah tersebut. Ini yang harus dijaga oleh Lampung,” kata muli dengan berat badan 50 kg ini.

Predikat sebagai Duta Kopi Indonesia bagi Rini adalah tantangan. Ia mengaku harus lebih dalam mengenali setiap detail kopi yang diproduksi seluruh daerah di Indonesia untuk dipromosikan ke seluruh jagat raya.

Dari iklim suatu daerah penghasil kopi, struktur tanah, kontur wilayah, suhih, proses olah tanah, varietas, pemeliharaan, hingga pemanenan. Lalu, di pascapanen, kematangan buah, penyimpanan, hingga proses menjadi kopi yang siap diminum juga menjadi perhatian.

“Kita menikmati kopi di kafe atau di warung pinggir jalan itu pada prinsipnya sama saja. Yang membedakan adalah ketika kita membicarakan rasa, sensasi cara minum, dan tempatnya. Dan itu adalah dinamika yang menjadi ruang terbuka untuk terciptanya kreativitas di dunia perkopian,” kata dia.

Dara yang hobi menari ini terus berupaya untuk memperbaiki diri dan menguatkan arah untuk mencapai cita-citanya. Mengambil seni tari pada studi di perguruan tingginya adalah obsesi untuk menjadi sosok yang bisa mengenal seni dan budaya nusantara khususnya Lampung dengan hamparan kebun kopi penyumbang ekspor kopi di Indonesia. Ayo ngopi lagi... (TIM)

Biodata

Nama : Tri Sartika Rini

Kelahiran : Penengahan Laay, Pesisir Barat, 4 agustus 1999

Agama : Islam

Tinggi : 169 cm

Berat : 55 kg

Hobi : Menari

Nama ayah : Heri Oktarino

Nama ibu : Nur Fatmawati

Prestasi

- Duta Kopi Indonesia 2019

- Muli Berbakat 3 Lampung 2018

- Muli 3 Pesisir Barat 2018

- Duta Polri 2018

- Duta Pemuda Indonesia Lampung 2017

- Maskot JPI Lampung 2017

- Harapan 2 Duta Museum Lampung 2017

- Juara 3 Duta Kopi Lampung 2017

- Duta Kopi Way Kanan 2017

- Harapan 2 Duta m

- Mahasiswa Genre Unila 2017

- Penyaji Tari Terbaik Festival Nasional Tari Tadisional 2015

- Juara 2 Tari Berpasangan Provinsi Lampung 2015

- Paskibraka 2015

- Duta Seni Pelajar 2014

Pilih Bangga Bangga 67%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 17%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 17%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu