PTPN VII Kantor Direksi : Wow...Klinik Pratama Miliki Electro Kardiogram

PTPN VII Kantor Direksi : Wow...Klinik Pratama Miliki Electro Kardiogram
Pasien jantung saat diperiksa menggunakan Electro Kardiogram © IL

BANDAR LAMPUNG (Ijilampung)--Di depan Ruang Periksa 2 Klinik Pratama PTPN VII Kantor Direksi, Jumino (56) terlihat anteng menunggu panggilan. Karyawan yang sudah memasuki masa purna bakti dua tahun lalu itu ingin mengecek kadar gula darahnya. Dari rumahnya di bilangan Rejosari, Natar, Lampung Selatan, ia memilih klinik ini karena merasa lebih nyaman.

“Ya, biasa, Mas. Cek gula darah. Saya cek bulan lalu sih normal, tetapi kok kemarin sore ada kerasa badan berat. Jadi, cek aja biar jelas. Lagian sambil ngobrol-ngobrol ketemu kawan lama. Juga biar tahu perkembangan. Dan katanya, sekarang kalau mau periksa jantung, di sini sudah ada alat canggihnya,” kata mantan karyawan yang lama bertugas di Unit Rejosari ini, beberapa waktu lalu.

Informasi yang diterima Jumino tentang alat periksa kondisi jantung benar. Saat ini, klinik yang pada awalnya didedikasikan untuk balai pengobatan khusus karyawan ini terus berusaha menyempurnakan pelayanan. Salah satunya dengan penambahan alat periksa jantung bernama Electro Kardiogram atau sering disingkat EKG.

Kepala Sub Bagian (Kasubag) Kesehatan PTPN VII Kantor Direksi Abdul Latif mengatakan, alat baru ini telah siap menerima layanan pemeriksaan jantung bagi pasien. Ia mengatakan, alat yang dibelu dengan dana perusahaan ini telah melalui uji kelayakan dari Kementerian Kesehatan dan sudah menjadi sarana penunjang pemeriksaan yang biaya pemanfaatannya dibebankan kepada BPJS Kesehatan.

ijilampung.com
Kasubag Kesehatan PTPN VII Kantor Direksi Abdul Latif

“Alat ini masih baru. Sumber dana pengadaannya dari perusahaan, tetapi operasionalnya by order sudah sinkron dengan BPJS Kesehatan. Jadi, pasien yang dari diagnosis dokter ada terindikasi gangguan pada jantung, sudah bisa kita layani di sini,” kata Latif.

Sebagaimana pasien lain, Jumino mengaku senang dengan perkembangan Klinik Pratama Kandir yang terus melengkapi dan memperbaiki pelayanan. Ia mengatakan, dengan beberapa alat yang dimiliki, pasien klinik yang hampir semua adalah karyawan, pensiunan, dan batih (keluarga karyawan) tidak perlu lagi dioper ke rumah sakit atau klinik lain untuk periksa jantung.

“Saya rutin periksa di sini, walaupun rumah saya cukup jauh. Selain karena gratis, walaupun di Puskes yang lebih dekat rumah juga gratis, tetapi pelayanan dan kenyamanannya lebih baik di sini. Mungkin juga karena dokter dan perawatnya juga sudah saling kenal dengan pasien,” kata dia.

Mengenai EKG yang dimiliki Klinik Pratama PTPN VII Kandir, Abdul Latif yang ex officio adalah Kepala Klinik menyatakan sangat mendukung. Pilihan kepada pengadaan alat periksa jantung, kata dia, salah satunya dari analisis kecenderungan jumlah pasien yang datang ke klinik ini dengan indikasi penyakit jantung cukup dominan.

Ia menyebutkan, pasien yang datang berobat ke kilinik yang dia pimpin terdiri dari karyawan aktif dan karyawan pensiun beserta batihnya. Dari rekam mediknya, banyak pasien, terutama yang sudah pensiun dan juga masih aktif tetapi memasuki usia 40—50-an, cenderung punya indikasi ke jantung.

“Saya tidak tahu persis, tetapi ada kecenderungan dan indikasi ke jantung. Mungkin karena gaya hidup, pola makan, dan faktor pekerjaan, atau yang lain. Makanya, ketika kassih usulkan pembelian alat ini, direksi menyetujui,” kata dia.

Alat yang bentuknya cukup sederhana dan ukurannya portable ini dinilai Latif sangat fungsional. Lokasi klinik yang tak jauh dari Kantor Direksi, di mana ada ratusan pegawai beraktivitas, akan lebih cepat bila terjadi keadaan darurat sebagai alat bantu diagnosis.

“Alat ini bentuknya tidak besar atau portabel, jadi bisa kita bawa dengan mudah ke lokasi yang membutuhkan jika kondisi darurat. Fungsinya juga sudah maksimal dengan fitur-fitur canggih tetapi pengoperasiannya relatif mudah. Dokter pada umumnya sudah bisa, tidak perlu tanaga khusus,” kata dia.

Keberadaan EKG ini menurut Abdul Latif akan menambah kepercayaan dari pasien yang setia menggunakan jasa kesehatan ke Klinik Pratama Kandir. Ia menambahkan, pihaknya terus melakukan perbaikan infrastruktur, fasilitas, kualitas layanan, dan sikap dasar seluruh tenaga medis.

“Tahun depan kami harus mengikuti akreditasi Klinik Pratama. Banyak aspek yang dinilai dan harus memiliki standar minimal. Termasuk juga attitude dan kepribadian seluruh yang terlibat dalam pengelolaan klinik ini, dari dokter sampai yang bertugas membersihkan halaman,” tambah dia.

Menuju Klinik Mandiri

Lebih dari lima ribu nama terdaftar sebagai klien yang memanfaatkan jasa layanan Klinik Pratama PTPN VII Kantor Direksi. Jumlah kunjungan pasien setiap hari juga tercatat 80—120 orang. Berbagai layanan dasar bisa dijalankan fasilitas kesehatan ini dengan baik.

Klinik yang berada di Kompleks Perumahan (emplasemen, seberang Kantor Pusat PTPN VII) itu juga memiliki dokter umum, dokter gigi, dan paamedis yang terdaftar sebagai karyawan PTPN VII. Tak berlebihan, sebab hampir seluruh pasien yang memanfaatkan layanan adalah karyawan perusahaan BUMN itu.

“Karena yang memanfaatkan layanan kami hampir semua karyawan atau pensiunan dan batihnya, jadi memang tak ada transaksi tunai di sini. Semua terkover oleh asuransi melalui BPJS Kesehatan,” kata Latif.

Kepesertaan karyawan dan pensiunan serta bhatihnya di BPJS kesehatan lien atau pasien Klinik di BPJS Kesehatan yang dikordinasikan oleh perusahaan membuat relasi antara klinik dan pihaka asuransi hampir tidak ada kendala. Setidaknya ada lima piagam penghargaan BPJS Kesehatan kepada Klinik Pratama PTPN VII Kandir sebagai fasilitas kesehatan yang paling taan membayar iuran.

Melihat progress Klinik yang baik dan lancar, Abdul Latif mengaku pihaknya siap untuk mengembangkan yang terbuka untuk umum dan bisa melayani semua masyarakat yang dibutuhkan sebagai klinik mandiri. Ia mengatakan, perusahaan sudah memberi modal dasar yang sangat fundamental untuk jika di kemudian hari melepas manajemen sebagai unit pelaksana teknis.

“Menurut saya, saat ini perusahaan selama ini telah memberikan dukungan luar biasa untuk kemajuan klinik sebagai unit pelaksana tehnis tersendiri dan dengan dukungan dana kapitasi dari BPJS kesehatan. Insya alloh kami sudah siap menjadi klinik yang mandiri dan bisa berkembang menjadi klinik rawat inap, justru klinik ini bisa kemudian hari menjadi embrio lahirnya rumah sakit milik PTPN VII. Kami bisa lebih leluasa dan berkembang lebih baik,” kata dia. (IL)

Pilih Bangga Bangga 50%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 50%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu