SMA Maarif 1 Sukatani : Maknai Kelulusan Dengan Berbagi Takjil Gratis

SMA Maarif 1 Sukatani : Maknai Kelulusan Dengan Berbagi Takjil Gratis
Para Siswi siap membagikan takjil gratis © Ist

KALIANDA (ijilampung.com)--- Ada yang unik terlihat saat melintas di Desa Sukatani, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan (17-05-2019), sekelompok pelajar berjajar memberikan takjil kepada pengedara yang melintas.

Puluhan siswa SMA Maarif 1 Sukatani, Kalianda, Lampung Selatan, membagikan takjil kepada para pengendara yang melintas didepan sekolah, ini sebagai wujud syukur atas kelulusan dengan cara yang berbeda.

Sambil membawa kardus bertuliskan “gratis”, para siswa mendekati para pengendara yang melintas dan memberikan takjil dengan muka tersenyum penuh kegembiraan.

Kegiatan yang kali pertama dilaksanakan ini mendapat apresiasi masyarakat dan para pengendara dan tidak sedikit yang memberikan do'a sebagai bentuk apresiasi.

ijilampung.com
Siswi SMU Maarif saat membagikan takjil pada pengendara

Menurut keterangan pihak kepala sekolah SMA Maarif 1 Sukatani, Fahrul Ulum menyatakan bahwa kegiatan yang dilakukan ini atas ide dari para siswa, bukan dari pihak sekolah. Kita sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan, semoga kegiatan ini akan terus dilakukan oleh generasi berikutnya dalam merayakan Tasyakuran kelulusan.

"Kemarin ide kegiatan itu dari anak-anak kelas XII A, awalnya digagas oleh beberapa orang, kemudian menunjuk Ketua pelaksanya itu saudara Alfarizi, bukan dari sekolah," kata Ebit Santibi, Sebagai Pembina IPNU/IPPNU SMA Maarif 1 Sukatani Kalianda.

Adapun seluruh pembiayaan dari kegiatan tersebut menurut Ebit Santibi berasal dari kantong pribadi para siswa/i.

Sementara itu, salah satu siswa kelas XIIA yang terlibat dalam kegiatan ini Alfarizi (ketua pelaksana) mengaku sekitar 150 takjil gratis yang mereka bagikan adalah hasil iuran bersama teman-teman angkatan. Ide dari kami seangkatan, iuran sehabis kami rapat sama kepala sekolah dan Pembina IPNU/IPPNU, terus dikumpulin, terus kami bikin takjilnya. Ada yang bikin, ada yang beli soalnya enggak keburu, kan," kata Alfarizi.

"Kami mikirnya kalau konvoi dan corat-coret cuma budaya yang enggak ada manfaatnya, kami cari kegiatan yang bermanfaat, sekolah juga melarang buat corat-coret," tutur Alfarizi. (***)

Sumber: (Hermansyah Alumni Literasi Gidital)

Pilih Bangga Bangga 60%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 40%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu