Kartini-Kartini di Pawai Budaya SDN 1 Kalipapan

Kartini-Kartini di Pawai Budaya SDN 1 Kalipapan
Parade Budaya SDN 1 Kalipapan, Kec. Negeri Agung, Kab. Way Kanan © IL

WAY KANAN (Ijilampung.com)---Sabtu pagi (21/4/19) pukul 6.30, matahari menelusup tajam dari sela-sela pepohonan di sekitar SDN 1 Kalipapan, Kecamatan Negeri Agung, Way Kanan. Seperti hari biasanya, siswa sekolah yang masih menerapkan enam hari belajar itu mulai berdatangan.

Namun, suasana hari itu tidak seperti biasanya. Anak-anak usia 6—12 tahun itu hampir seluruhnya mengenakan pakain bebas. Lebih tepatnya, busana etnik.

Jumlah siswa perempuan lebih banyak mengenakan pakaian adat Jawa berupa kebaya hitam, lengkap dengan jaritnya. Make up khas pengantin Jawa berupa paes atau motif hitam melekuk-lekuk untuk membangun kesan kesuburan rambut hingga menutupi kening juga dikenakan. Namun, sebagian lainnya memilih dandanan adat etnik cukup simple.

ijilampung.com
Seorang murid memakai pakaian adat dan membawa foto R. Ajeng Kartini

Anak-anak itu umumnya diantar ibunya ke sekolah. Di halaman yang masih sepi, mereka melanggang bagai puteri memasuki ruang resepsi. Namun, ada beberapa yang mengenakan pakaian adat Papua memanfaatkan rumbai modif suiran tali plastik dipadu dedaunan tampak bergerak lebih ceria. Siswa-siswa lelaki itu tampak menyesuaikan gerak ala tari perang suku Papua.

“Ini pakaian adat Papua, Om. Kami pilih pakaian Papua kan nggak usah nyewa-nyewa, tinggal bikin aja. Lagi pula, pakai pakaian begini kan nggak ribet, bisa bebas. Selesai acara, tinggal buang aja,” kata Iwan, salah satu dari empat anggota grup yang mengenakan pakaian Papua.

Tidak semua siswa mengenakan pakaian adat. Sebagian lainnya tetap memakai pakain modern lengkap dengan jas dan sepatu sotiknya. Juga ada yang tetap mengenakan pakaian putih-merah sebagai uniform sekolah dasar.

Hari itu, mereka memang sedang memperingati salah satu hari besar Bangsa Indonesia, yakni Hari Kartini. Meski ada yang terlihat kikuk karena kesulitan beradaptasi dengan pakain adat, acara peringatan yang diawali dengan upacara bendera itu menarik perhatian warga yang melintas.

ijilampung.com
Kepala SDN 1 Kalipapan Muhammad Taufik Tawakal (tengah) bersama para guru dan anak murid pemenang lomba pakaian adat

Kepala SDN 1 Kalipapan Muhammad Taufik Tawakkal mengatakan, tradisi memperingati hari-hari besar di sekolahnya memang terus dipelihara. Untuk memberi kesan kepada setiap momen, pihaknya selalu menciptakan suasana berbeda yang melibatkan seluruh siswa.

“Ya, setiap peringatan hari besar, kami selalu menandai dengan berbagai kegiatan yang bisa mengingatkan. Seperti hari ini, kami memperingati Hari Kartini ke 140. Kami menganjurkan anak-anak untuk memakai pakaian adat. Nah, beginilah suasananya,” kata dia.

Sesuai tema Hari Kartini, yakni tentang emansipasi perempuan yang mandiri, dominasi anak-anak mengenakan pakaian yang dulu dikenakan R.A. Kartini. Yakni, kebaya. Sedangkan anak-anak lain mengenakan pakaian adat lain untuk menumbuhkan kebhineka tunggal ikaan.

Dalam upacara bendera, pihak sekolah memilih tim yang bertugas untuk semua pelaksana upacara adalah siswa perempuan. Demikian juga dengan inspektur upacaranya. “Ini adalah potret RA Kartini, wanita juga mampu mengerjakan hampir seluruh pekerjaan, bahkan yang selama ini dianggap domain laki-laki,” kata dia.

Kegiatan peringatan dengan aneka agenda seperti ini, menurut Taufik, sapaan akrabnya, mendapat dukungan dari orang tua dan seluruh dewan guru. Ia menyatakan terima kasih atas dukungannya untuk membangun karakter anak yang cerdas, mandiri, dan toleran.

ijilampung.com
Parade Budaya SDN 1 Kalipapan, Kecamatan Negeri Agung, Kabupaten Waykanan

“Tiga hal yang kami ingin sampaikan kepada masyarakat dan para murid, pertama meningkatkan partisipasi, mengingat kembali perjuang emansipasi wanita dan mengenalkan budaya daerah dari seluruh Indonesia termasuk Lampung,” kata dia.

Di penghujung kegiatan, pihak sekolah meminta setiap siswa yang mengenakan pakaian adat untuk berlenggak-lenggok di “catwalk” panjang berupa rute jalan desa dan finish di Lapangan Tenis PTPN VII dengan agenda Pawai Budaya. Mereka kemudian dinilai oleh juri yang berasal dari dewan guru. Jenis pakaian yang dilombakan dalam kategori pakaian adat, busana modern, dan baju berkreasi unik. (TIM)

Pilih Bangga Bangga 60%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 20%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 20%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu