Katu, Rezeki Baru Haru Prianto

Katu, Rezeki Baru Haru Prianto
Haru bersama keluarga saat memanen katu © IL

PESAWARAN---Shafa Marwa Meka. Gadis mungil berusia lima tahun itu berlari riang keluar dari kompleks TK PTPN VII Way Berulu ketika lonceng jam pulang berdentang. Sosok lelaki kurus berbaju biru muda dengan sepeda motor bebek di luar pagar menjadi fokus.

Semenit kemudian, bocah lincah itu sudah berada di pelukan Haru, sang ayah yang menjemput.

Tak banyak dialog bapak-anak dalam perjalanan pulang sekolah yang hanya lima menit itu. Saat menurunkan anak ketiganya itu di depan rumah yang berada di kompleks perumahan karyawan, satu permintaan sang anak menjadi titik balik kehidupan karyawan bagian Laboratorium di PTPN VII Unit Way Berulu itu.

“Waktu itu, anak saya yang baru saya jemput dari sekolah minta uang jajan Rp2 ribu. Saya lagi nggak punya duit. Anak saya nangis nggak berhenti sampe sore, sampe istri saya pulang kerja. Itu peristiwa kecil yang membuat saya menangis dan membuat saya sadar. Saya sedih bener,” kata pria 45 tahun ini.

Peristiwa berhikmah itu terjadi pada 2017. Haru Prianto menandai tangisan sang anak hingga sore sebagai “dosa” yang tak termaafkan. Itu yang memantik pikiran bapak tiga anak ini untuk tidak boleh bergantung hanya dari satu sumber pendapatan.

ijilampung.com
Haru di hamparan kebun katunya

Bertanam Katu

Lahir di Way Lima, Pesawaran dari keluarga berkecukupan, Haru memang beranjak dewasa dalam suasana yang menyenangkan. Menikahi Yenny Susilowati dalam suasana ekonomi yang mapan, Haru sempat terlena oleh keadaan.

Hari-hari, selain gaji lancar dari perusahaan tempatnya bekerja, perhatian orang tua atas kehidupan anak dan cucunya juga masih mengalir deras. Semua kebutuhan dasar, bahkan skunder dan tertier tersedia dalam jumlah yang cukup.

Namun, bolak-baliknya zaman berpengaruh kepada kehidupan keluarga Haru-Yenny. Bersamaan kepada kemunduran ekonomi orang tuanya yang kemudian memutuskan untuk tidak memberhentikan subsidi, kondisi perusahaan tempatnya bekerja juga mengalami hambatan.

“Ini menjadi pelajaran bagi saya. Orang tua saya memberhentikan subsidi kepada saya karena dianggap sudah kebablasan. Berbarengan dengan itu, gaji saya sebagai karyawan juga sempat tersendat. Itu karena harga karet dan sawit anjlok berbarengan dengan produksi yang turun drastis. Nah, rupanya ujian ini menjadi hidayah bagi hidup saya,” kata pria lulusan SMA ini.

Tangisan Shafa Marwa Meka pada siang itu menjadi pelajaran dalam hidup Haru. Saat itu, ia sempat masuk rumah dan mengecek semua saku celana-baju yang tergantung kalau-kalau ada koin yang tertinggal. Juga laci-laci meja dan lemari ia sweeping, tetapi tak ada satu kepengpun tertinggal.

“Saya nangis, waktu itu. Dulu, uang banyak saya hambur-hamburkan nggak karuan, giliran anak minta uang dua ribu perak aja nggak punya. Cuman dua ribu, harus nunggu istri pulang kerja. Sebenarnya saya bisa pinjem ke warung atau tetangga, tetapi malu,” kenang dia.

Meski sedih akut, Haru tidak menyalahkan orang lain. Ia mengeja kembali perjalanan hidupnya dan berupaya mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

Salah satu modal yang selama ini bersemayam adalah kecintaannya kepada tanaman. Sejak dulu, meskipun hidup dalam kecukupan, Haru bukan sosok pemalas. Ia hampir tak pernah mangkir kerja sebagai karyawan PTPN VII Unit Way Berulu, tetapi pada sisa waktu produktifnya ia gunakan untuk berkebun.

Beberapa anak buah yang juga tetangganya pernah dia rekrut menjadi pekerja untuk menanam sayuran dan hortikultura. Tak punya tanah lapang, sewa pun jadi. Tak pelak, ia pernah menjadi juragan rampai (tomat kecil bahan sambal) yang menyemarakkan pasar-pasar di seputaran Bandar Lamapung.

Modal pengalaman masa jaya itu ia bangunkan kembali saat masa sulit datang. Ia melirik satu lahan kosong eluas 1.600 meter (empat rantai) milik kakaknya yang hanya beberapa langkah dari rumahnya untuk ditumpangi berkebun.

“Saya nanam katu di lahan itu. Dan ternyata, hasilnya lumayan. Sekarang, dari kebun katu itu, saya punya penghasilan tambahan yang bisa menutup biaya-biaya kalau pas gaji lagi tersendat,” kata dia.

Sepetak kebun itu kini menjadi oasis dalam kehidupannya. Kekurangan yang pernah dia alami juga menjadi pintu hidayah untuk menumbuhkan relijiusitasnya.

“Saya berterima kasih kepada istri, keluarga, dan tetangga-tetangga saya yang mendukung dan terus mengajak saya kepada kebaikan. Saya punya kawan kerja, namanya Pak Wasis. Dia yang terus mengajak saya untuk ke masjid. Dan itu cukup lama,” kata dia.

Prakarsa membuka lahan tidur menjadi produktif dan menambah sumber pendapatan di luar gaji yang dilakukan Haru, kini menginspirasi. Manajemen PTPN VII Unit Way Berulu memberi apresiasi, bahkan mempercayai lelaki enerjik ini untuk membuka lahan sejenis milik perusahaan.

“Saya melihat ada lahan nganggur milik perusahaan. Terus, saya bersama kawan-kawan minta izin ke manajer untuk menggarap. Alhamdulillah Pak Manajer ngasih izin, tetapi harus bikin surat perjanjian. Sekarang, kami bertujuh, sesama karyawan sedang mulai menggarap tanah seluas 4.000 meter. Masing-masing kebagian 600 meter. Rencananya, saya mau tanam kemangi,” kata dia. (SDM/IL)

Pilih Bangga Bangga 33%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 33%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 0%
Pilih Terpukau Terpukau 33%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu