‘Pulung’ Kartono dari Emping Jagung

‘Pulung’ Kartono dari Emping Jagung
Ainun, istri Kartono menunjuakan emping jagung yang dihasilkan bersama suaminya© IL

BANDAR LAMPUNG (Ijilampung.com)--Di ruang dapur berdinding geribik dan lantai tanah di Desa Bagelen, Gedongtataan, Kartono bangun lebih awal dari biasanya, pada pagi 2016.

Ia duduk di dingklik kayu menghadapi telenan, sepanci jagung pipilan rebus, dan sepotong ganden (palu besar). Gerakan-gerakan dari alat-alat itu menghasilkan bunyi dengan birama belum teratur. “Tok...tok...tok!” suara itu berulang-ulang. Istrinya tampak mendampingi sambil sesekali terdengar bisik-bisik.

Namun, derit gesekan pintu rumah induk yang terbuka membuat ia gugup. Benar saja, ibunya keluar dan mendapati anak dan menantunya sedang mengolah makanan berbahan jagung.

“Arep nggawe apa, kuwe Kar? Dene, kowe disekolahne duwur-duwur malah arep nggawe dagang marning. Kepriben, kiye lah....(Mau buat apa itu, Kartono? Ini bagaimana, disekolahkan tinggi-tinggi kok malah mau bikin dan dagang marning---makanan ringan berbahan jagung. Ini bagaimanalah...).”

“Ora, mak. Kiye njajal arep nggawe emping jagung, kanggo dipangan. Nggo kletikan....(Enggak, Bu. Ini mau mencoba bikin emping jagung untuk dimakan, untuk camilan...,” jawab Kartono ragu.

Ainun, istri Kartono memilih diam. Namun, kalimat panjang yang memecah sunyi pagi selepas salat subuh itu menjadi pengingat kisah awal usahanya hingga kini. Usaha emping jagung dengan marek dagang Ainun itu kini telah beromset Rp75 juta per bulan dan menjadi jalan hidup pasangan yang kini dikaruniai dua anak itu.

ijilampung.com
para pekerja pembuatan emping jagung

Ditemui di rumahnya yang sudah permanen di Desa Bagelen, Pesawaran, Ainun menceritakan kisah suaminya memilih “jalan ekonomi sunyi” yang tidak biasa. Sarjana Pendidikan alumnus IAIN (sekarang UIN) Raden Intan Lampung itu mengawali dengan kisah sang suami.

Wanita langsing ini mengatakan, suaminya adalah sarjana ilmu peternakan lulusan Institut Pertanian Bogor. Selepas kuliah, kesempatan untuk magang bekerja di Jepang yang difasilitasi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung datang. Tanpa hambatan berarti, bujangan kebanggaan keluarga ini melewatkan masa kontrak kerja tiga tahun di negeri Sakura.

Meleset dari kompetensi akademiknya, Kartono bekerja di perusahaan konstruksi logam sebagai tukang las. Namun, kecerdasan membaca gambar dan menerjemahkan ke dalam bentuk konkret barang-barang yang dipesan membuat ia menjadi salah satu pekerja andalan di perusahaan itu.

“Nama perusahaannya Takayama. Bergerak di bidang konstruksi logam dengan bahan baku utama stainless steel. Saya beradabtasi sampai akhirnya bisa membaca gambar dan membangun konstruksi dari gambar itu,” kata Kartono.

Tiga tahun di Jepang membuat Kartono cukup punya tabungan. Penghasilannya sebagian besar dikirim kepada orang tuanya di kampung untuk membeli sawah. Sebagian lagi dipinjam saudara, tetangga, dan membeli ternak.

“Waktu kontrak habis, saya semnpat ditawari perpanjangan, tetapi saya tolak. Bos saya di Jepang itu juga mau buka cabang di Indonesia dengan syarat saya tetap bekerja di situ. Tetapi saya nggak mau karena saya ingin bebas dari perintah,” kata dia.

Namun, kepulangan dari negeri orang dengan membawa uang tampaknya belum menyelesaikan masalah. Uang yang sudah menjadi sawah dan dipinjam orang tak bisa segera ia olah menjadi usaha yang diinginkan.

“Pulang dari Jepang, saya menikah. Tetapi, abis nikah nggak punya uang dan nggak punya kerjaan. Saya sempat memelihara kambing, tapi gagal. Akhirnya saya cari kerja lagi ke Tangerang,” kisah dia.

Bertahan tiga bulan di Tangerang, Kartono mendapat tawaran kerja di Bintan, Kepulauan Riau. Di tempat yang baru itu, ia dijanjikan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya sebagai sarjana peternakan. Yakni, pada perusahaan ternak ayam.

“Saya sudah terbanagke sana. Begitu sampai di sana, ternyata peternakan babi. Wah, di situ saya marah, tetapi nggak berani berontak. Akhirnya saya kabur, jalan kaki setengah hari untuk bisa ketemu jalan besar,” kata dia.

Pulang kampung tanpa hasil dan harapan menguji kesabaran Kartono yang sudah punya anak ini. Hari-hari ia isi dengan khayalan mencari inspirasi usaha baru.

“Terakhir, ya ketemu emping jagung ini. Entah dari mana ceritanya, kok tahu-tahu saya pengin menjajal aja,” kata dia.

Eksperimentasi

Aksi coba-coba resep emping jagung Kartono bukan instan. Ia mengaku sempat membuka situs-situs tutorial membuat makanan dari jagung, tetapi hasilnya tak sesuai harapan. Ia juga sempat minta resep dan belajar kepada pembuat marning di Desa Karanganyar, tak jauh dari rumahnya, tetapi pelajaran yang diberikan tak selengkap yang dibayangkan.

ijilampung.com
Hartono mengurauikan usaha yang dirinits berrsama istrinya Aiun

“Saya ekperimen ini sampai setengah tahun, Mas. Memang tidak setiap hari, tetapi sedikit-sedikit dan terus-menerus. Hasilnya saya bawa ke pengajian, ke gotong royong, ke mana-mana untuk sekadar dicicip orang. Dan ternyata, banyak yang suka,” kenang dia.

Uji rasa dan selera dengan konsep sosial itu mengantarnya pada kesimpulan untuk menjadikan emping jagung ini sebagai usaha. Bermula dari pesanan teman istrinya yang bekerja di BRI Cabang Lampung di Bandar Lampung yang dititipkan ke kantin, kartono mulai mendapat penggemar. Pesanannya bertambah. Lalu, ada pedagang yang memesan dari lima kilo per hari sampai sanggup membeli 50 kilo gram per hari.

“Kami kaget, kok ada yang pesan sampai setengah kuintal per hari. Akhirnya kami yang sebelumnya punya mesin kecil, saya besarkan. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa produksi empat kuintal per hari,” kata Ainun.

Banjirnya pesanan bukan tak ada hambatan bagi usaha Kartono. Awalnya, ia juga masih sering terjebak pesanan jagung rusak yang berakibat kerugian besar. Persoalan dana segar untuk pengadaan bahan baku juga menjadi masalah.

“Syukurlah, saya dapat pinjaman sangat lunak dari PTPN VII. Pertama, pada 2016 dapat pinjaman Rp10 juta dengan jasa administrasi 3% per tahun atau 0.25% perbulan telah pinjaman berjalan tiga bulan. Alhamdulillah nggak sampai setahun lunas. Sekarang dapet lagi Rp20 juta, insyaalloh nggak nunggak,” kata dia.

Kini, produk emping jagung yang dia jual dalam kondisi mentah sudah merambah ke banyak pasar di Lampung dan luar Lampung. Pesanan dari para pedagang sudah dengan hitungan ton. Dan dalam sebulan, omset usahanya diperkirakan Rp70—80 juta.

ijilampung.com
Ainun menjelaskan penjempuran emping jagung

“Alhamdulillah, dari usaha yang dulu nggak disangka-sangka, kami bisa hidup cukup. Ibu-bapak saya memang belum sempat naik haji, tetapi sudah umroh. Kami bisa beli tanah, rencana untuk tempat produksi. Kami juga sudah punya alat produksi dan punya stok bahan baku yang cukup,” kata dia.

Soal pemasaran yang kebanyak menjadi masalah, itu tidak ada kendala bagi emping jagung Kartono. Hingga saat ini, ia memang belum mengolah empingnya menjadi produk end user atau produk matang yang siap dikonsumsi, tetapi sedang berencana. “kamai sedang mengurus legalitasnya,” kata dia.

Kartono menyampaikan terima kasih kepada PTPN VII yang peduli kepada pengusaha kecil seperti dirinya. “Saya berharap, kawan-kawan lain pengusaha kecil mendapat bantuan kredit kemitraan ini. Ini sangat menolong,” kata dia. (SDM/IL)

Pilih Bangga Bangga 63%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 25%
Pilih Terpukau Terpukau 13%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu