Mengenal KH.Ahmad Hanafiah Ulama dan Pejuang Lampung Timur

Mengenal KH.Ahmad Hanafiah Ulama dan Pejuang Lampung Timur
KH.Ahmad Hanafiah Ulama dan Pejuang Lampung Timur ©Ist

LAMPUNG TIRMUR---Provinsi Lampung pada era penjajahan Belanda dan Jepang memiliki sejumlah tokoh pejuang kemerdekaan yang aktif melawan dan siap berperang untuk mencapai kemerdekaan yang dapat kita rasakan sampai saat ini.

Salah satunya sosok KH Ahmad Hanafiah, pejuang kemerdekaan sekaligus ulama berpengaruh dari Kota Sukadana Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung.

Semasa hidupnya KH Ahmad Hanafiah telah berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari cengkeraman penjajah di tanah Lampung.

Sejumlah catatan dan sumber penelitian sejarah yang dihimpun, dan dibenarkan oleh pihak keluarga almarhum KH Ahmad Hanafiah di Lampung Timur, menyebutkan dia lahir pada 1905 di Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Tengah (sekarang dimekarkan menjadi Kabupaten Lampung Timur).

KH Hanafiah adalah putra sulung KH Muhamad Nur, pimpinan Pondok Pesantren Istishodiyah di Sukadana yang termasuk menjadi pondok pesantren pertama di Provinsi Lampung.

Semasa hidupnya, pejuang sekaligus tokoh agama/ulama (kiai) dari Lampung Timur ini pernah mengenyam pendidikan pemerintahan di daerahnya di Sukadana, belajar agama Islam dengan ayahnya, dan pernah belajar di sejumlah pondok pesantren di luar negeri, seperti di Malaysia dan Kota Mekkah maunpun Madinah.

Catatan peristiwa sejarah mengungkapkan bahwa KH Hanafiah dikenal pemberani, ditakuti dan disegani lawan. Bahkan beliau dikabarkan kebal peluru.

Dia juga sosok komandan laskar yang rendah hati dan tidak mau menonjolkan diri serta selalu berjuang tanpa pamrih.

Selain itu, dia diakui juga sebagai tokoh agama, ulama, pejuang, politisi dan komandan perang yang dikenal sebagai laskar bergolok karena mereka selalu bersenjatakan golok ciomas saat bertempur.

KH Ahmad Hanafiah juga memiliki sejumlah pengalaman, di antaranya pada masa penjajahan Jepang menjadi anggota `chuo sangi kai` Karesidenan Lampung pada 1943.

Dia juga menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Kewedanaan Sukadana pada 1945-1946.

Ia pun menjadi Ketua Partai Masyumi dan Pimpinan Hizbullah Kewedanaan Sukadana. Lalu, menjadi anggota DPR Karesidenan Lampung tahun 1946 sampai 1947, dan Wakil Kepala merangkap Kepala Bagian Islam pada Kantor Jawatan Agama Karesidenan Lampung sejak awal 1947.

Puncaknya beliau gugur di medan perang dalam upaya merebut kemerdekaan RI dari agresor Belanda menjelang malam 17 Agustus 1947 di Front Kemerung, Baturaja, Sumatera Selatan.

Guna mengenang jasa-jasanya, Pemkab Lampung Timur telah membangun monumen patung KH Ahmad Hanafiah.

"Sebagai penghargaan atas jasa-jasa KH Ahmad Hanafiah, Pemkab Lampung Timur telah membangun monumen patungnya beliau sebagai pejuang sekaligus tokoh dan ulama dari daerah ini," ujar Budi Yul Hartono, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Lampung Timur.

Monumen patung itu dibangun pada 2015 dan berdiri di ruas jalan utama Sukadana, sehingga dapat disaksikan oleh setiap orang yang melewati jalan utama kabupaten ini.

Piagam penghargaan dari Gubernur Lampung pun diberikan kepada sejumlah tokoh daerah Lampung, di antaranya kepada KH Ahmad Hanafiah dari Sukadana dengan Surat Keputusan Gubernur Lampung Nomor: G/520/III.04/HK/2015, tanggal 2 November 2015.

Pemkab Lampung Timur juga telah mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional atas jasa-jasanya mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Budi Yul Hartono, Pemkab Lampung Timur telah menyampaikan rekomendasi gelar pahlawan nasional bagi KH Ahmad Hanafiah kepada Pemerintah Provinsi Lampung untuk diteruskan kepada Presiden RI.

"Sudah disusulkan gelar pahlawan nasional pada 2015 kepada Pemerintah Provinsi Lampung, usulan itu berdasarkan jasa-jasa KH Ahmad Hanafiah bagi NKRI," ujarnya lagi. (Berbagai Sumber/AN)

Pilih Bangga Bangga 80%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 20%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu